Kamis, 16 Juni 2022

Koneksi antar materi modul 1.2 nilai dan peran guru penggerak




Tugas 12.a.8. Koneksi antar materi Modul 1.2 Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak 

Setelah saya menjalani pembelajaran dari Modul 1.1 hingga Modul 1.2 ini, berikut adalah hal yang menjadi pembelajaran bagi saya (model refleksi 4P):

  1. Peristiwa : momen yang paling penting atau menantang atau mencerahkan bagi saya dalam proses pembelajaran modul 1.1 hingga modul 1.2 adalah

Momen yang paling menantang saya pada modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hadjar Dewantara yaitu kita memulai dari diri dan ruang kolaborasi, mengapa? Tentu anda pasti bertanya iyakan.

Baiklah akan saya gambarkan berikut :

Pada bagian mulai dari diri modul 1.1, saya menuliskan tokoh Ki Hadjar Dewantara yang menjadi tokoh inspirasi dalam merdeka belajar, dimana beliau telah diabadikan dalam uang pecahan Rp. 20.000 Tahun terbit 1998 sampai 2008. Yang biasanya Pahlawan Nasional di Indonesia diabadikan nama mereka pada nama jalan, uang, bangunan dan tempat penting lainnya. Saya menulis dengan judul “Malas Membaca”, judul itu saya aplikasikan untuk murid-murid saya yang memang malas membaca ketika belajar, dan saya berupaya membuka wawasan motivasi murid saya dengan saya membuat buletin bacaan setiap pekannya. Apakah tindakan saya itu sudah dikategorikan Merdeka Belajar ? nah, semoga saja dengan mengikuti modul 1.1 saya terbuka wawasan agar dapat melaksanakan pembelajaran kreatif dan inovatif.

Lalu pada bagian ruang kolaborasi modul 1.1 di situ saya merasakan pertama sekali kerjasama dalam ruang virtual, seumur-umur belum pernah. Ha..ha.. bagaimana membuat karya bersama-sama menentukan peran tugas masing-masing dan menjalankan presentasi diruang virtual gmeet yang terkendala teknis dalam presentasi karena memang tidak pernah latihan. Ha..ha.. namun fasilitator ibu Agusriyani sangat memaklumi dan memberikan semanagat  kepada kami karena hal itu wajar sebagai pengalaman baru.

Lanjut lagi pada modul 1.2 yang paling menantang dan mencerahkan bagi saya sama seperti modul 1.1 yaitu mulai dari diri dimana saya membuat diagram trapesium Usia, saya membuat tulisan dengan judul Trapesium Usia, saya jelaskan berdasarkan atas pertanyaan yang saya buat sendiri, apa itu trapesium usia, dan memang trapesium usia ini bukan sebuah teori yang dikemukakan oleh ahli luar negeri, namun ini merupakan karya anak bangsa, dan ini patut kita apresiasi sebagai sebuah karya yang menurut saya sangat langsa sebagai sebuah konsep dan pemikiran tentang menjelaskan gambaran pengalaman terbaik dan negatif yang pernah dirasakan.

Selanjutnya yang paling menantang berikutnya adalah eksplorasi konsep yaitu tentang berpikir cepat dan lambat yaang selama ini saya ketahui adalah ia merupakan sistem kerja saraf di otak, yaitu saraf simpatik dan saraf parasimpatik (kerja otak sadar) dan otak tidak sadar. Dan tentang teori gunung es yang memang sampai berakhirnya modul 1.2 bagaimana kita dapat menyelam mengenali potensi anak sampai kita mengetahui dalamnya potensi anak secara sutuhnya belum saya ketahui secara mendalam baik dari paparan materi dan paparan elaborasi dari instruktur. Ya mungkin seiring proses  nantinya saya tahu hal tersebut.

Lalu apa kaitan antara modul 1.1 dengan modul 1.2

Menurut saya sangat memiliki keterkaitan yang erat, dimana pada modul 1.1 kita dijelaskan tentang fiolosifi ki Hadjar dewantara yaitu menuntun, berpihak pada anak, kodrat anak, budi pekerti, dan anak bukan tabularasa. Digambarkan bahwa murid itu seperti itu gambarannya, lalu di modul 1..2 ada konsep guru penggerak dengan nilai dan perannya untuk mengupayakan agar filosofi ki Hadjar Dewantara dapat terwujud pada proses pendidikan anak sehingga melahirkan sebuah kebudayaan yang bermartabat, maju dan bernilai luhur tinggi di masa mendatang.

2. Peraasan : saat momen itu terjadi saya merasa bagaikan

Saat momen modul 1.1 saya seolah merasakan bahwa apa hebatnya filosofi Ki Hadjar Dewantara dan Merdeka Belajar dan merasakan bahwa saya telah menerapkan pembelajaran yang sudah sesuai selama ini. Namun ketika saya mulai masuk di ruang kolaborasi saya menyadari andai saja saya ego dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, tidak mau berkontribusi dan tidak mau bekerjasama. Apa yang terjadi pada tugas presetasi kaimi? Wah bisa kebayang terhambatnya ruang diskusi kolaborasi. Kemudian pada saat momen 1.2 saya teringat masa lalu di saat saya sekolah memberikan gambaran akan ada guru terbaik dan pengalaman belajar yang buruk saat itu, sehingga pengalaman baik itu akan saya elaborasikan menjadi sebuah pengalaman baru murid saya nantinya dan berupaya agar pengalaman buruk tidak akan terjadi terhadap murid-murid saya.

 

3. Pembelajaran : Sebelum momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa dalam mengambil keputusan perlu tindakan yang cepat  sekarang saya berpikir bahwa kita memerlukan jeda waktu menaganalisis akan keputusan yang akan kita ambil, pertimbangan, masukan imbas dari diambilnya keputusan tersebut.

 

4. Penerapan ke depan (Rencana): Apa pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak?

Hal tersebut sudah sudah saya jawab pada sesi demontrasi konsteksual yang nantinya akan saya tampilkan dalam link berikut ini :

 Tugas Demonstrasi Konstektual

Salam dan Hebat Bapak Ibu Guru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar