Minggu, 25 September 2022

2.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.2

 Selamat berjumpa kembali ke blog saya.

Pada kesempatan kali ini saya menyampaikan tentang tugas koneksi antar materi modul 2.2 yaitu tentang pembelajaran sosial dan emosional yang telah saya unggah dalam youtube selamat menyaksikan:


Terimakasih sudah menyaksikan tugas yang saya kerjakan. salam dan bahagia guru-guru hebat.

Senin, 12 September 2022

2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1 Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid

 Jumpa kembali dengan saya

Pada Kesempatan kali ini akan saya jabarkan koneksi antar materi pada modul 2.1 yaitu Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid yaitu Pembelajaran Berdiferensiasi

Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas.

Pembelajaran diferensiasi adalah pembelajaran di mana guru menyampaikan pembelajaran dengan menyesuaikan kondisi murid dari sisi kesiapan murid, gaya belajar, minat, dan profil belajar murid. Sehingga guru meyakini bahwa setiap murid dilahirkan berbeda dan guru tidak bisa menerapakan gaya pembelajaran yang dia kendaki dan guru perlu memandang bahwa murid memiliki kodrat yag berbeda-beda, dan mereka unik satu sama lainnya.

Setiap murid tentu memiliki pengetahuan awal yang ia miliki, sebagai seorang guru kita perlu memahami apakah pengetahuan awal dari murid sesuai, dengan hal pengetahuan dan keterampilan yang akan diajarkan, sehingga guru perlu mengetahui kesiapan belajar murid. Murid memiliki minat yang berbeda beda ada yang minat matematika, sains, olahraga, bahasa, budaya, minat yang bermacammacam ini perlu dipadukan oleh guru menjadi pemetaan proses belajar yang beraneka macam yang nantikan akan diberikan kepada murid. Ciri pembelajaran berdiferensiasi yang paling mendasar buat saya adalah pembelajaran ini memiliki diferensiasi proses, konten dan produk. Murid diharapkan mampu belajar sesuai dengan diferensiasi yang sudah disediakan oleh guru dalam pembelajaran.

Pada akhirnya nanti guru dapat mengelola kelas untuk memenuhi kebutuhan murid secara individu, guru juga diharapkan mengetahui profil belajar murid dari latar belakang murid, lingkungan, cara belajar, perkembangan keterampilan, sebagai bahan dasar informasi yang dapat membantu guru untuk menyusun rencana pembelajaran secara efektif.

Ada anggapan bahwa murid “bodoh” dari bahan sumber bacaan yang diperoleh bahwa tidak dapat kita katakan murid itu bodoh namun murid ternyata belum siap untuk melaksanakan pembelajaran . bagaimana pembelajaran diferensiasi dapat diterapkan di dalam kelas? Tentunya guru harus melakukan beberapa langkah berikut :

1.    Menentukan tujuan belajar, tentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai setelah dari proses pembelajaran selesai. Guru juga harus mempu menerjemakan kata kerja yang akan diharapkan dapat dicapai oleh siswa. Disinilah akan ada perbedaan tujuan pembelajaran dalam satu materi untuk setiap satuan pendidikan, mengapa karena tujuan pembelajaran juga lahir dari pemetaan kesiapan belajar siswa. Tentunya harus digali dari informasi pendahuluan sebelum menetapkan tujuan pembelajaran.

2.    Menentukan pemetaan belajar murid. Ada hal yang baru yang saya dapatkan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdiferensiasi. Dimana saya meilihat bahwa di RPP  berdiferensiasi adalah cakupan pemetaan belajar murid, ada gaya belajar murid, minat murid yang sudah dipetakan lalu ada diferensiasi proses, konten dan produk yang akan dipetakan untuk menjawab perbedaan profil murid.

3.    Menentukan penilaian yang akan digunakan. Jelas sekali penilaian adalah bentuk atau cara dan upaya guru mengetahui apakah proses pembelajaran yang diuapayakan oleh guru berhasil ataupun tidak, penilaian ini termasuk penilaian formatif. Kemudian ada bentuk penilaian sumatif dimana akan diketahui bahwa apakah siswa telah atau tidak berhasil dapat proses pembelajaran yang dilakukan. Penilaian tidak semata akan menghasilkan sebuah nilai namun nilai itu akan bermakna  terhadap proses pembelajaran yang berkelanjutan.

4.    Menentukan kegiatan pembelajaran, setelah ditetapkan bentuk dan rencana penilaian, maka akan bermuara pada kegiatan pembelajaran yang telah disusun sesuai dengan rencana. Guru juga perlu melakukan refleksi diri berdasarkan penilaian formatifg yang telah dilakukan. Apakah ada strategi pembelajaran yang perlu untuk dirubah ataukah tidak.  

Jelaskan bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. Jelaskan pula bagaimana Anda melihat kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak.


 

 

Jelas sekali bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal mengapa karena apasih kebuhan belajar murid? Tentunya kita perlukan melakukan pemetaan atas kebutuhan belajar murid, melalui pembelajaran diferensiasi kita akan mengetahui cara jitu akan startegi yang akan dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan belajar murid. Bagaimana cara mengetahui akan kebutuhan belajar murid  diantara sebagai berikut :

1.    Menganalisa hasil capaian nilai siswa pada waktu sebelumnya.

2.    Berkomunikasi dengan guru mata pelajaran lainya dan termasuk dengan guru bimbingan konseling

3.    Melakukan survei dengan menggunakan angket pengamatan dan survei diri murid

4.    Mewawancarai murid

5.    Berkomunikasi dengan orang tua

Adapun hasil perolehan data awal siswa akan disajikan pada tabel hasil asesmen awal atau asesmen diagnostik. Perlu diingat bahwa asesmen diagnostik perlu dilakukan secara periodik. Mengapa hal ini perlu dilakukan karen murid cendrung berubah sewaktu-waktu.

Pada akhirnya setelah dilakukan pemetaan murid maka guru tentunya akan merencanakan suatu upaya jitu untuk melaksanakan proses pembelajaran yang berdiferensiasi sesuai dengan kebutuhan murid, dan pada kahirnya akan menghasilkan pembelajaran secara optimal.

Kemudian apa kaitannya modul pembelajaran berdiferensiasi dengan modul guru penggerak lainnya. Akan saya jelaskan sebagai berikut:


Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

Kaitannya dengan modul Guru Penggerak

1.1 Fiosofi Pembelajaran Ki Hadjar Dewantara

1.2 Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak

1.3 Visi Guru Penggerak

1.4 Budaya Positif

Fiosofi Pembelajaran Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus berpihak pada murid. Hal ini selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi, dimana pembelajaran berorientasi kepada kebutuhan murid

 

Dalam memetakan kebutuhan belajar murid dibutuhan guru yang memiliki nilai reflektif terhadap proses pembelajaran yang sudah dilaluinya bersama murid; harus inovatif membuat media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid; dan harus mampu berkolaborasi dengan murid, sesama guru, dan orang tua murid untuk mendapatkan informasi tentang karakter belajar murid.

 

Guru Penggerak memiliki Visi untuk melakukan perubahan positif pada pembelajaran yang berpihak pada murid. melalui strategi pendekatan Inquiry Apresiatif, guru akan menemukan kekuatan yang dimilikinya untuk mewujudkan VISI tentang murid impiannya.

 

Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk atmosfer lingkungan yang positif. Lingkungan yang positif terwujud karena adanya budaya positif yang lahir dari disiplin internal dalam komunitas belajar.


 

 


Minggu, 28 Agustus 2022

1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4 Budaya Positif

A. KESIMPULAN PERAN GURU

Kesimpulan mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan  sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak,  serta Visi Guru Penggerak. 

1. Disiplin Positif

    Makna kata "disiplin" dalam budaya kita adalah sesuatu yang kita lakukan kepada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Menurut Bapak ki Hadjar Dewantara bahwa : “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ‘self discipline’ yaitu kita sendiri

yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka".

    Peran guru dalam mewujudkan merdeka belajar bagi muridnya adalah syarat utamanya harus bisa menumbuhkan disiplin yang kuat terhadap siswanya. Bagaimana guru bisa menumbuhkan disiplin diri pada murid dengan motivasi intrinsik tentunya harus dimulai dari diri sendiri dengan memberikan contoh dan tauladan yang baik kepada murid. Murid.

    Hal tersebut dijelaskan oleh Diane Gossen (2001) bahwa disiplin membuat seseorang menggali potensinya menuju suatu tujuan mulia, sesuatu yang dihargai dan bermakna. Dengan adanya disiplin positif, membantu murid bagaimana bisa mengontrol diri dan menahan diri dalam mengambil suatu tindakan yang mengacu pada nilai-nilai kebajikan. 

    Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan nilai-nilai kebajikan melalui pemberian contoh dan pembiasaan-pembiasaan, sehingga pada akhirnya menjadi suatu budaya positif yang tercipta pada semua warga sekolah. 

2. Motivasi Perilaku Manusia (Hukuman dan Penghargaan)

    Menurut Diane Gossen, motivasi perilaku manusia terdiri dari 3 (tiga), yakni :

    - Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman (Motivasi eksternal)

    - Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain (motivasi eksternal)

   - Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya (motivasi internal)

    Hukuman bersifat satu arah, dari guru yang memberikan dan sifatnya tidak terencana dan murid harus melaksanakannya. Tidak ada kesepakatan sebelumnya, sehingga membuat murid merasa tidak nyaman dan kemungkinan menimbulkan rasa sakit hati dan dendam. Penghargaan merupakan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan, sifatnya terencana dan sudah disepakati atau  disetujui oleh murid dan guru. Murid tetap akan merasakan ketidaknyamanan, karena akan ada konsekuensi ketika melanggar peraturan atau kesepakatan yang telah dibuat. 

    Sebagai guru, sudah menjadi tugas kita bagaimana membuat murid-murid kita menjadi orang yang seperti mereka inginkan dan dapat menghargai dirinya dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Apabila murid sudah memiliki ini, maka setiap tindakan atau disiplin positif yang dilakukan bukan karena menghindari hukuman atau karena ingin mendapatkan penghargaan namun karena sudah terbentuknya motivasi intrinsik dalam dirinya dan ini akan berdampak jangka panjang. Murid akan merasa nyaman dan bahagia karena merasa dihargai.

3. Posisi Kontrol Restitusi

    Menurut Diane Gossen  terdapat 5 (lima) posisi kontrol yang bisa diterapkan oleh guru atau orang tua, yakni : 

  • Penghukum : Guru selalu beranggapan bahwa hanya cara dia yang bisa digunakan agar pembelajaran bisa berhasil. Hasilnya : kemungkinan murid menjadi dendam dan marah, bahkan bisa berontak dan melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirinya
  • Pembuat Merasa Bersalah : Guru biasanya bersuara lembut dan menciptakan keheningan untuk membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri. Hasilnya membuat murid menjadi orang yang bersalah dan merasa gagal sehingga bisa menyebabkan murid tertekan 
  • Teman : Guru berupaya mengontrol murid secara persuasifHasilnya murid merasa senang dan akrab dengan guru tertentu saja dan menjadi tergantung kepada hanya satu guru
  • Pemantau : Guru mengawasi murid berdasarkan peraturan-peraturan dan konsekuensinya. Hasilnya murid tetap tidak merasa nyaman karena adanya konsekuensi yang harus mereka jalankan akibat pelanggaran
  • Manajer : Guru mempersilahkan murid mempertanggungjawabkan perilakunya dan mendukung murid agar dapat menemukan solusi dan memperbaiki kesalahannya. Hasilnya murid merasa dihargai dan menemukan sendiri solusi dari perbuatannya di bawah bimbingan guru.
    Dari kelima posisi kontrol di atas, maka posisi yang terbaik adalah guru mengambil posisi kontrol sebagai manajer. Karena di posisi ini guru mengajak murid untuk menganalisis kebutuhan dirinya dan juga kebutuhan orang lain serta mampu bertanggung jawab atas sikap dan perbuatan yang telah dilakukan. Guru mengembalikan murid ke kelompoknya dengan lebih baik dan lebih kuat.

4. Keyakinan Sekolah/Kelas

    Guru memiliki peran dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan pada muridnya. Salah satu caranya adalah dengan membuat suatu kesepakatan bersama tentang nilai-nilai kebajikan yang ada pada setiap peraturan di sekolah sehingga menghasilkan suatu keyakinan sekolah/kelas. Keyakinan sekolah/kelas lebih menggerakkan seseorang dibandingkan dengan serangkaian peraturan-peraturan

5. Segitiga Restitusi

   Dalam posisi kontrol sebagai manajer, seorang guru bisa menerapkan segitiga restitusi ini dan melakukukannya secara runut mulai dari menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan. Konsep segitiga restitusi ini sangat bagus karena berpengaruh positif kepada orang yang sudah melakukan kesalahan dan merasa dirinya sebagai orang yang gagal. 

Segitiga restitusi


Keterkaitan Modul Budaya Positif dengan Modul Sebelumnya :

Modul 1.1 Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara (KHD)

   KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada murid-murid, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Setiap murid memiliki karakter yang berbeda, begitu juga dengan bakat dan minatnya. Pendidiklah yang menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada murid-murid, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
Dalam menuntun tumbuhkembangnya anak, sangat dibutuhkan peran seorang pendidik yang bisa menjadi "among". 

Modul 1.2. Nilai dan Peran Guru Penggerak
    Dari pemikiran KHD di atas, maka seorang guru harus mempunyai nilai-nilai dan menjalankan perannya sehingga bisa menjadi "among" dan memotivasi murid-muridnya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya melalui proses pembelajaran. Nilai-nilai seorang guru penggerak itu adalah : berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif. Sedangkan peran seorang guru penggerak adalah : menjadi pemimpin dalam pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan siswa, dan menggerakkan komunitas praktisi. 
Sebagai seorang calon guru penggerak, maka diharapkan mampu memimpin dan mengelola perubahan dengan memanfaatkan aset dan kekuatan positif yang dimiliki serta membangun kolaborasi dengan komunitas sekolah dalam mewujudkan Merdeka Belajar dan menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila kepada siswa

Modul 1.3. Visi Guru Penggerak

Dalam mewujudkan suatu perubahan positif di sekolah khususnya pada diri siswa, maka dibutuhkan suatu visi dan langkah-langkah konkrit untuk mencapainya. Visi akan terwujud jika terjalin kolaborasi yang baik antar warga sekolah. Salah satu manajemen perubahan yang berbasis kolaboratif dan kekuatan adalah Inkuiri Apresiatif (IA). Pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif (potensi dan aset organisasi) yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Salah satu contoh penerapannya adalah dengan menggunakan tahapan BAGJA ( Buat pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan rencana, Atur Eksekusi)

1.4. Budaya Positif

Dalam mewujudkan visi guru penggerak melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif menggunakan tahapan BAGJA, diperlukan sebuah kesepakatan bersama dalam bentuk keyakinan kelas yang melahirkan pembiasaan-pembiasaan positif yang berujung menjadi suatu budaya positif. Budaya Positif ini akan membuat murid merasa nyaman dan bahagia selama proses pembelajaran. Budaya positif ini juga akan membuat murid untuk berpikir sebelum bertindak, memiliki kebebasan dalam berkreasi, berjiwa mandiri dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Hal ini sejalan dengan harapan pemerintah saat ini dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dalam diri murid.

B. REFLEKSI PEMAHAMAN MATERI BUDAYA POSITIF

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Disiplin positif adalah disiplin yang terbentuk berdasarkan motivasi intrinsik
Teori Kontrol adalah setiap orang memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri, dia tidak bisa mengontrol orang lain begitu juga sebaliknya orang lain tidak punya kekuatan untuk mengontrol seseorang
Teori motivasi adalah didasari bahwa setiap perilaku memiliki tujuan. Motivasi terdiri dari motivasi ekstrinsik dan intrinsik, motivasi intrinsik akan melahirkan nilai-nilai kebajikan universal yang akan melahirkan suatu keyakinan sekolah/kelas
Hukuman dan Penghargaan adalah masih merupakan suatu motivasi eksternal, yang memiliki dampak : jangka pendek dan jangka panjang, penghargaan menghukum, penghargaan mengurangi ketepatan, penghargaan tidak efektif, penghargaan merusak hubungan, penghargaan menurunkan kualitas, penghargaan mengurangi kreatifitas, dan penghargaan mengurangi motivasi intrinsik.
Posisi Kontrol Guru yang terbaik adalah sebagai Manajer, karena guru memberikan keyakinan kepada murid bahwa apa yang dilakukannya itu bukan semata-mata karena faktor hadiah atau menghindari hukuman tetapi lebih didasarkan pada kepentingan dirinya.
Kebutuhan Dasar Manusia terdiri dari 5 yakni bertahan hidup, kesenangan, penguasaan, rasa ingin diterima dan kasih sayang, kebebasan. Setiap perilaku individu didasarkan atas kebutuhan hidupnya, Semua yang dilakukan adalah merupakan upaya terbaik untuk mendapatkan apa yang diinginkan. 
Keyakinan Kelas merupakan sebuah hasil kesepakatan bersama terhadap nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal. Keyakinan kelas lebih menggerakkan seseorang dibandingkan dengan peraturan-peraturan yang sifatnya lebih kepada larangan-larangan.
Segitiga Restitusi terdiri dari 3 langkah yakni menstabilkan identitas (semua orang akan melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan), Validasi tindakan yang salah ( Setiap murid memiliki kebutuhan sehingga semua perilaku pasti ada alasannya), Menanyakan keyakinan ( semua orang memiliki motivasi intrinsik)

Hal-Hal yang menarik dan di luar dugaan saya adalah bahwa setiap perilaku murid memiliki alasan tertentu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dan ketika murid melakukan sesuatu pelanggaran atau kesalahan tidak seharusnya kita langsung menyalahkan murid tetapi kita harus memposisikan diri sebagai manajer untuk menerapkan segitiga restitusi untuk melahirkan budaya positif pada setiap murid.

Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Saya mencoba memahami alasan murid saya dalam melakukan suatu kesalahan dengan memposisikan diri saya sebagai manajer, ketika saya berada di posisi tersebut dan mendorong murid saya untuk selalu mengingat keyakinan kelasnya sehingga bisa menumbuhkan budaya positif secara intrinsik. Selain itu saya lebih bisa menahan diri dan tidak langsung bertindak sebagai penghukum dan pemberi kesalahan pada murid sehingga ke depan muird tidak lagi melanggar keyakinan di sekolah.

Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Ketika terjadi kasus perkelahian 2 orang siswa dan permasalahan tersebut oleh wali kelas di serahkan kepada saya karena memamng saat itu sedang dalam jam istrirahat, mungkin wali kelas sedang sangat lelah dan ingin beristirahat. kemudian ketika dua orang siswa tadi dihadapkan kepada saya, saya langsung menerapkan diri sebagai manajer, seketika guru-guru lain terkejut salah seorang siswa menangis sangat tersedu mengingat dari pertanyaan saya tentang pekerjaan orang tuanya, dan malah siswa yang berkelahi tadi saling memberikan semangat, dan tidak ada lagi rasa marah dan dendam diantara mereka dan pada akhirnya situasi normal kembali. Akhirnya ketika saya sudah melakukan langkah-langkah segitiga restitusi terjadi perubahan positif pada diri murid tersebut, sehingga rekan-rekan saya semakin penasaran bagaimana cara melakukan restitusi tersebut. Dan kemudian saya memberikan sedikit informasi tetag segitiga restitusi yang telah saya terima dari program guru penggerak. Dan saya sudah merencanakan melakukan diseminasi terkait penerapan Budaya Positif di sekolah.

Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

say merasa sangat beruntung mengikuti program guru penggerak apalagi sudah mempelajari modul 1.4 tentang budaya positif, serta lambat laun saya mulai mengaplikasikannya dalam kegiatan di sekolah tempat saya bertugas.

Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Hal-hal yang sudah baik adalah keyakinan kelas dan disiplin positif. Hal-hal yang harus diperbaiki adalah tentang pemahaman "hukuman dan penghargaan" dan  posisi kontrol guru, yang masih lebih dominan sebagai "penghukum", "pembuat rasa bersalah", dan "teman" sehingga perlu peningatan posisi kontrol untuk menuju posisi sebagai "manajer".

Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya? 

Yang paling sering saya lakukan adalah posisi kontrol sebagai "Penghukum" dan "Teman". Perasaan saya saat itu adalah masih belum puas karena memang hasilnya tidak maksimal, karena perilaku dan kesalahan murid tetap terulang lagi. Perubahan tidak berjalan lama karena memang motivasinya masih ekstrinsik.
Setelah mempelajari modul ini, saya menggunakan posisi "manajer" dan saya juga merasa tenang dan bisa lebih bersabar dan menahan diri dalam menghadapi murid. Saya mencoba lebih memahami alasan dibalik perilaku mereka dan membantu mereka dalam menemukan solusi dan memperbaiki kesalahannya sehingga menimbulkan kesadaran dan pentingnya nilai-nilai kebajikan.
Perasaan saya sekarang semakin yakin bahwa saya harus bisa menjadi seorang manajer yang baik yang bisa membimbing murid dalam meyakini keyakinan kelasnya sehingga melahirkan budaya posisitf. 

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Pernah, meskipun pada saat itu saya belum mengenal istilah restitusi. Namun saya melakukannya tidak  menggunakan langkah restitusi secara utuh. Saya biasanya hanya pada tahap menanyakan alasan murid melakukan tindakan dan mengakui kesalahannya dan kemudian memberikan konsekuensi akibat tindakannya.

Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Hal yang penting untuk saya pelajari dalam proses menciptakan budaya positif di sekolah adalah membangun komunikasi yang baik dengan warga sekolah  dan bagaimana menjalin kolaborasi dalam menciptakan budaya positif. Selain itu, saya akan mencoba mencari informasi tentang sekolah yang sudah berhasil menciptakan budaya positif di sekolahnya dan mempelajari bagaimana mereka melakukannya. 





Demikian seluruh rangkaian tugas, 1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4 Budaya Postif. semoga dapat memberikan manfaat. Terima kasih.

Kamis, 11 Agustus 2022

1.3.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.3 Visi Guru Penggerak

Pada tulisan ini, saya akan paparkan tentang tugas yang terkait tentang : 

Apa yang Bapak/Ibu pahami mengenai kaitan peran pendidik dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada murid-muridnya dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) di sekolah Bapak/Ibu?

Revisi dan rumuskan dengan penuh keyakinan, visi yang telah Bapak/Ibu buat berdasarkan jawaban pertanyaan diatas, ke dalam sebuah VISI yang membuat Bapak/Ibu bersemangat ketika membacanya, dan menggerakkan hati setiap orang yang membacanya!


VISI : BERPRESTASI DILANDASI IMAN DAN TAQWA BERBUDAYA SEBAGAI INSAN MELAYU TAMIANG DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

Paradigma Inkuiri Apresiatif sangat relevan dengan pernyataan Ki Hajar Dewantara yaitu murid hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri baik kodrat alam maupun kodrat zaman.Pendekatan paradigma Inkuiri Apresiatif sejatinya adalah menggali potensi setiap anak sesuai dengan kodratnya masing masing. Jadi paradigma ini bisa menjadi salah satu metode untuk mencapai visi yang sesuai dengan visi Ki Hajar Dewantara.

Melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJA maka peran guru sangat penting dalam mewujudkan “kemerdekaan murid” sebagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu :

  1. M   elaksanakan pembelajaran yang berpihak dan berorientasi pada murid
  2. Menggali potensi pada diri murid baik (bakat,minat,latar belakang, motivasi dan cara belajar,) sesuai dengan kodrat zaman (perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi zaman yang sesuai)
  3. Mengembangkan pembelajaran berbudaya yang sesuai dengan budaya dan kearifan lokal yang bermakna seiring untuk melestarikan budaya yang sesuai dengan norma agama.
  4.  Mengembangkan pembelajaran yang berwawasan lingkungan sebagai bagian penting untuk mewujudkan kepedulian murid pada lingkungan yang berbasis lingkungan sekolah.
  5.   Menumbuhkan motivasi dari dalam diri siswa untuk untuk mencapai visi pembelajaran yang diharapkan.
  6.   Sebagai guru penggerak yang memiliki peran dan makna maka terus menerus menyelenggarakan tahapan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi murid

Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan , akhlak mulian serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat, bangsa dan negara (UU RI no.20/2003, Sistem pendidikan Nasional Bab I, Ketentuan Umum Pasal 1. No.1)

Oleh karenanya perlunya sebuah visi yang menggambarkan dimana ada terintegrasinya pembiasan ataupun rutinitas dari prakasa perubahan yang dapat mewujudkan elemen-elemen pada dimensi Profil Pelajar Pancasila.

Setelah mengetahui peran kita sebagai guru maka kita bisa mengambil langkah konkret dalam menerapkan pendekatan IA model BAGJA ini antara lain sejalan visi yang telah ditetapkan yaitu :

1.  Mengajak pihak-pihak yang berkontribusi aktif untuk melakukan memonitoring dan evaluasi secara berkala terhadap pengembangkan pembelajaran kepedulian lingkungan hidup berbasis tumbuhan di lingkungan sekolah

2. Merefleksikan proses dan hasil dari rangkaian seluruh pengembangkan pembelajaran kepedulian lingkungan hidup berbasis tumbuhan di lingkungan sekolah

3. Meminta siswa untuk merefleksikan hasil pelaksanaan pengembangkan pembelajaran kepedulian lingkungan hidup berbasis tumbuhan di lingkungan sekolah

 




 


 

 

 

 

 

Kamis, 16 Juni 2022

Koneksi antar materi modul 1.2 nilai dan peran guru penggerak




Tugas 12.a.8. Koneksi antar materi Modul 1.2 Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak 

Setelah saya menjalani pembelajaran dari Modul 1.1 hingga Modul 1.2 ini, berikut adalah hal yang menjadi pembelajaran bagi saya (model refleksi 4P):

  1. Peristiwa : momen yang paling penting atau menantang atau mencerahkan bagi saya dalam proses pembelajaran modul 1.1 hingga modul 1.2 adalah

Momen yang paling menantang saya pada modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hadjar Dewantara yaitu kita memulai dari diri dan ruang kolaborasi, mengapa? Tentu anda pasti bertanya iyakan.

Baiklah akan saya gambarkan berikut :

Pada bagian mulai dari diri modul 1.1, saya menuliskan tokoh Ki Hadjar Dewantara yang menjadi tokoh inspirasi dalam merdeka belajar, dimana beliau telah diabadikan dalam uang pecahan Rp. 20.000 Tahun terbit 1998 sampai 2008. Yang biasanya Pahlawan Nasional di Indonesia diabadikan nama mereka pada nama jalan, uang, bangunan dan tempat penting lainnya. Saya menulis dengan judul “Malas Membaca”, judul itu saya aplikasikan untuk murid-murid saya yang memang malas membaca ketika belajar, dan saya berupaya membuka wawasan motivasi murid saya dengan saya membuat buletin bacaan setiap pekannya. Apakah tindakan saya itu sudah dikategorikan Merdeka Belajar ? nah, semoga saja dengan mengikuti modul 1.1 saya terbuka wawasan agar dapat melaksanakan pembelajaran kreatif dan inovatif.

Lalu pada bagian ruang kolaborasi modul 1.1 di situ saya merasakan pertama sekali kerjasama dalam ruang virtual, seumur-umur belum pernah. Ha..ha.. bagaimana membuat karya bersama-sama menentukan peran tugas masing-masing dan menjalankan presentasi diruang virtual gmeet yang terkendala teknis dalam presentasi karena memang tidak pernah latihan. Ha..ha.. namun fasilitator ibu Agusriyani sangat memaklumi dan memberikan semanagat  kepada kami karena hal itu wajar sebagai pengalaman baru.

Lanjut lagi pada modul 1.2 yang paling menantang dan mencerahkan bagi saya sama seperti modul 1.1 yaitu mulai dari diri dimana saya membuat diagram trapesium Usia, saya membuat tulisan dengan judul Trapesium Usia, saya jelaskan berdasarkan atas pertanyaan yang saya buat sendiri, apa itu trapesium usia, dan memang trapesium usia ini bukan sebuah teori yang dikemukakan oleh ahli luar negeri, namun ini merupakan karya anak bangsa, dan ini patut kita apresiasi sebagai sebuah karya yang menurut saya sangat langsa sebagai sebuah konsep dan pemikiran tentang menjelaskan gambaran pengalaman terbaik dan negatif yang pernah dirasakan.

Selanjutnya yang paling menantang berikutnya adalah eksplorasi konsep yaitu tentang berpikir cepat dan lambat yaang selama ini saya ketahui adalah ia merupakan sistem kerja saraf di otak, yaitu saraf simpatik dan saraf parasimpatik (kerja otak sadar) dan otak tidak sadar. Dan tentang teori gunung es yang memang sampai berakhirnya modul 1.2 bagaimana kita dapat menyelam mengenali potensi anak sampai kita mengetahui dalamnya potensi anak secara sutuhnya belum saya ketahui secara mendalam baik dari paparan materi dan paparan elaborasi dari instruktur. Ya mungkin seiring proses  nantinya saya tahu hal tersebut.

Lalu apa kaitan antara modul 1.1 dengan modul 1.2

Menurut saya sangat memiliki keterkaitan yang erat, dimana pada modul 1.1 kita dijelaskan tentang fiolosifi ki Hadjar dewantara yaitu menuntun, berpihak pada anak, kodrat anak, budi pekerti, dan anak bukan tabularasa. Digambarkan bahwa murid itu seperti itu gambarannya, lalu di modul 1..2 ada konsep guru penggerak dengan nilai dan perannya untuk mengupayakan agar filosofi ki Hadjar Dewantara dapat terwujud pada proses pendidikan anak sehingga melahirkan sebuah kebudayaan yang bermartabat, maju dan bernilai luhur tinggi di masa mendatang.

2. Peraasan : saat momen itu terjadi saya merasa bagaikan

Saat momen modul 1.1 saya seolah merasakan bahwa apa hebatnya filosofi Ki Hadjar Dewantara dan Merdeka Belajar dan merasakan bahwa saya telah menerapkan pembelajaran yang sudah sesuai selama ini. Namun ketika saya mulai masuk di ruang kolaborasi saya menyadari andai saja saya ego dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, tidak mau berkontribusi dan tidak mau bekerjasama. Apa yang terjadi pada tugas presetasi kaimi? Wah bisa kebayang terhambatnya ruang diskusi kolaborasi. Kemudian pada saat momen 1.2 saya teringat masa lalu di saat saya sekolah memberikan gambaran akan ada guru terbaik dan pengalaman belajar yang buruk saat itu, sehingga pengalaman baik itu akan saya elaborasikan menjadi sebuah pengalaman baru murid saya nantinya dan berupaya agar pengalaman buruk tidak akan terjadi terhadap murid-murid saya.

 

3. Pembelajaran : Sebelum momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa dalam mengambil keputusan perlu tindakan yang cepat  sekarang saya berpikir bahwa kita memerlukan jeda waktu menaganalisis akan keputusan yang akan kita ambil, pertimbangan, masukan imbas dari diambilnya keputusan tersebut.

 

4. Penerapan ke depan (Rencana): Apa pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak?

Hal tersebut sudah sudah saya jawab pada sesi demontrasi konsteksual yang nantinya akan saya tampilkan dalam link berikut ini :

 Tugas Demonstrasi Konstektual

Salam dan Hebat Bapak Ibu Guru.


Selasa, 31 Mei 2022

Refleksi Filosofi Pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara


Ilustrasi 

Seorang Petani akan menanam benih Jagung dan Padi, Bibit Jagung akan tumbuh menjadi Jagung, Sedangkan bibit padi akan tumbuh menjadi padi. Begitulah kira-kira sebuah penggalan ilustrasi yang dapat kita bayangkan, dimana, bahwa Petani ibaratnya seorang guru dan bibit-bibit tanaman jagung dan padi adalah siswa. Mereka sudah terlahir dalam bentuk kodrat yang sudah ada, tinggal guru yang harus mampu menuntun, menjadikan lingkungan belajar layaknya tanah yang subur untuk media tanam bibit padi dan jagung. Agar bibit-bibit padi ddan jagung (siswa) dapat tumbuh kembang dengan baik.

Ternyata Ki Hadjar Dewantara telah merumuskan 5 buah dasar-dasar pemikiran untuk mendidik anak, dimana akan saya uraikan lebih lanjut.

Sistem Ekskresi Manusia


Sistem Ekskresi Manusia